Sabtu, 29 September 2012

Praktikum Kimia - Laporan 5



PERCOBAAN V
STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN
PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN
KONSENTRASI ASAM ASETAT
I.         TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk dapat memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel.

II.      TINJAUAN PUSTAKA
Analisis kimiawi menetapkan komposisi kuantitatif dan kualitatif suatu materi. Konstituen-konstituen yang akan dideteksi ataupun ditentukan jumlahnya adalah unsur, radikal, gugusan fungsi, senyawaan atau fase. Analisis kimia menyangkut aspek analitis yang lebih sempit dan spesifik. Analisis pada umunya terdiri atas analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Biasanya analisis kualitatif dilakukan sebelum analisis kuantitatif (Khopkar, 1990).
Tahapan penentuan analisis kuantitatif adalah dengan usaha mendapatkan sampel, mengubahnya menjadi keadaan yang dapat terukur, pengukuran konstituen yang dikehendaki, dan yang terakhir perhitungan dan interpretasi data numerik (Khopkar, 1990).
Analisis kimia terdiri dari dua, yaitu analisis gravimetri yang merupakan proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara, yaitu metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai metode yang lainnya. Kemudian analisis kimia yang lainnya, yaitu analisis volumetri atau yang sering dikenal dengan analisis titrimetri , di mana zat yang akan dianalisis dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan (Khopkar, 1990).
Analisis volumetri atau titrimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya  telah diketahui.  Larutan standar biasanya diteteskan dari buret kedalam suatu erlemeyer yang mengandung zat yang akan  ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai.  Proses ini dinamakan titrasi.  Titik dimana reaksi telah selesai disebit titik akhir teoritis (Sukmariah, 1990).
Selesainya titrasi dapat dilihat karena terjadi suatu perubahan warna.  Perubahan warna ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator.  Titik dimana terjadi perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi.  Secara ideal titik akhir titrasi sampai dengan titik akhir teoritis (ekivalen) (Sukmariah,1990).
Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan  dibawah ini :
  1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang  diketahui kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %
  2. Harus stabil
  3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air,    tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).
Titrasi biasanya merupakan larutan standar elektrolit kuat,  seperti natrium hidroksida dan asam klorida.
1.       Oksidasi-reduksi (redoks), reaksi-reaksi kimia yang menyangkut oksidasi-reduksi secara luas digunakan dalam analisa titrimetri.  Misalnya besi dalam keadaan oksidasi +2 dapat dititrasi dengan suatu larutan standar serium (IV) sulfat :
Fe 2+   +   Ce 4+                           Fe3+    +   Ce3-
Pengoksidasian lain secara luas digunakan sebagai suatu titran adalah kalium permanganat (KmnO4).  Reaksi dengan besi (II) dalam larutan asam adalah :
                 5Fe 2+   +   MnO4-   +   8H                  5Fe 3+  +   Mn2+  +   4H2
2.       Pengendapan, pengendapan kation perak dengan anion halogen merupakan prosedur titrimetri yang digunakan secara luas.  Reaksinya adalah :
                 Ag+   +   X-                        AgX (s)
            Dengan X-   yang mungkin ion klorida, bromida, ionida,atau tiosionat (SCN).
3.        Pembentukan kompleks, sebuah contoh reaksi yang menghasilkan suatu kompleks stabil adalah ion-ion perak dan sianida :
                   Ag +   +   2CN-                       Ag (Cn) 2
       secara luas untuk penentuan titrimetri Reaksi ini merupakan dasar dari reaksi apa yang disebut cara liebig untuk menentukan sianida.  Pereaksi organik tertentu seperti asam etilen dialamim tetra asetat ( EDTA ), membentuk komplek stabil dengan sejumlah ion metal dan digunakan semacam ini (Underwood, 1980).

III.   ALAT DAN BAHAN
  1. Alat
            Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi gelas arloji, gelas beker  100 mL, pengaduk kaca, pipet tetes, pipet ukur, erlenmeyer 100 mL, labu takar 100 mL, dan buret 50 mL.

  1. Bahan
     Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O), larutan standart NaOH 0,1 N, akuades, cuka makan komersial,  dan indikator fenoftalein.

IV.    PROSEDUR KERJA
  1. Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat dan Penggunaannya untuk Standarisasi  Larutan NaOH.
1)      Sebanyak 1,26 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.
2)      Asam Oksalat dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker 100 mL, tambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian diaduk hingga larut. Setelah itu gelas arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan masukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut.
3)      Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudiam gelas beker dibilas dengan sedikit akuades, air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu takar.
4)      Akuades ditambahkan ke dalam labu takar  hingga tepat tanda batas dan dikocok hingga homogen.
5)      Buret yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan akuades  kemudian dikeringkan.
6)      Larutan asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam buret 50 mL.
7)      Sebanyak 10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi dimasukkan kedalam erlenmeyer  kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenoftalein.
8)      Larutan NaOH dititrasi dengan larutan asam oksalat dari buret.
9)      Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan kemudian dicatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi.
10)  Dilakukan titrasi kembali sebanyak dua kali dan dihitung rata-rata volume asam oksalat yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan.

  1. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka Komersial.
1)      Sebanyak 2 mL asam cuka komersial dituangkan ke dalam labu takar 250 mL dengan menggunakan pipet ukur.
2)      Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas kemudian labu takar tersebut ditutup dan dikocok hingga larutan homogen.
3)      Sebanyak 15 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian sebanyak 2-3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut.
4)      Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades kemudian dikeringkan.
5)      Larutan standar NaOH 0,1 N yang telah distandarisasi di masukkan ke dalam buret.
6)      Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N dalam buret.
7)      Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat volume NaOH yang digunakan.
8)      Dilakukan kembali titrasi sebanyak dua kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi.

V.       HASIL DAN PEMBAHASAN
       A.        Hasil dan Perhitungan
                   1. Hasil
·      Pada larutan jenuh MgCO3
No
Percobaan
Pengamatan
1.


2.


3.


4.

5.

6.

7.


8.

9.
Dimasukkan 10 mL larutan MgCO3 jenuh dengan pipet gondok kedalan erlenmeyer
Ditambahkan 1 mL larutan HCl                 0,001 M menggunakan pipet gondok

Ditambahkan 10 mL larutan NaOH 0,001 M dengan menggunakan pipet gondok
Dicuci buret yang akan digunakan dengan akuades
Diisi buret dengan larutan standar HCl 0,001 M
Ditambahkan indikator fenol merah kedalam erlenmeyer
Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan larutan HCl 0,001 M sampai terjadi perubahan warna
Dihentikan titrasi, dicatat volume HCl yang diperlukan untuk titrasi
Diulangi langkah sebanyak 2 kali. Rata-ratakan volume HCl yang digunakan
Volume larutan jenuh = 10 mL


NaOH 0,001 M berwarna bening, larutan berwarna bening
NaOH 0,001 M berwarna bening

Volume buret 50 mL

Volume larutan standar 50 mL

Larutan berwarna ungu

Perubahan warna dari ungu menjadi kuning muda.

Titrasi 1 : VHCl = 2,5 mL
Titrasi 2  : VHCl= 2,7 mL
Rata-rata volume HCl untuk titrasi = 2,6 mL

·      Pada larutan jenuh CaCO3
No
Percobaan
Pengamatan
1.


2.

3.


4.

5.

6.

7.


8.

9.
Dimasukkan 10 mL larutan CaCO3 jenuh dengan pipet gondok kedalan erlenmeyer
Ditambahkan 5 mL larutan HCl 0,001 M menggunakan pipet gondok
Ditambahkan 10 mL larutan NaOH 0,001 M dengan menggunakan pipet gondok
Dicuci buret yang akan digunakan dengan akuades
Diisi buret dengan larutan standar HCl 0,001 M
Ditambahkan indikator fenol merah kedalam erlenmeyer
Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan larutan HCl 0,001 M sampai terjadi perubahan warna
Dihentikan titrasi, dicatat volume HCl yang diperlukan untuk titrasi
Diulangi langkah sebanyak 2 kali. Rata-ratakan volume HCl yang digunakan
Volume larutan jenuh = 10 mL


HCl 0,001 M berwarna bening, larutan berwarna bening
NaOH 0,001 M berwarna bening

Volume buret 50 mL

Volume HCl dalam buret 50 mL
Larutan berwarna ungu

Perubahan warna dari ungu menjadi kuning muda.

Titrasi 1 : VHCL= 1 mL
Titrasi 2 : VHCL= 1 mL
Rata-rata volume HCl untuk titrasi = 1 mL

·        Pada larutan jenuh BaCO3
No
Percobaan
Pengamatan
1.


2.


3.


4.

5.

6.

7.


8.

9.
Dimasukkan 10 mL larutan MgCO3 jenuh dengan pipet gondok kedalan erlenmeyer
Ditambahkan 5 mL larutan HCl 0,001 M menggunakan pipet gondok

Ditambahkan 10 mL larutan NaOH 0,001 M dengan menggunakan pipet gondok
Dicuci buret yang akan digunakan dengan akuades
Diisi buret dengan larutan standar HCl 0,001 M
Ditambahkan indikator fenol merah kedalam erlenmeyer
Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan larutan HCl 0,001 M sampai terjadi perubahan warna
Dihentikan titrasi, dicatat volume HCl yang diperlukan untuk titrasi
Diulangi langkah sebanyak 2 kali. Rata-ratakan volume HCl yang digunakan
Volume larutan jenuh = 10 mL


NaOH 0,001 M berwarna bening, larutan berwarna bening

NaOH 0,001 M berwarna bening
Volume buret 50 mL

Volume larutan standar 50 mL

Larutan berwarna ungu

Perubahan warna dari ungu menjadi kuning muda.

Titrasi 1 : VHCL= 2,2 mL
Titrasi 2 : VHCL= 0,7 mL
Rata-rata volume HCl untuk titrasi = 1,45 mL

                  

                   2. Perhitungan
            a. Kelarutan MgCO3
                Diketahui : V MgCO3 = 10 mL
                            VHCl = 1 mL ; [HCl] = 0,001 M
                VNaOH = 10 mL ; [NaOH] = 0,001 M
                VHCl Titrasi = 2,6 mL
                Ditanyakan : Kelarutan MgCO3 (mol/L)
                Jawab : Misalkan jumlah mmol MgCO3 = x mmol
                Jumlah mmol HCl = 0,001 M x 1 mL = 0,001 mmol
                Jumlah mmol NaOH = 0,001 M x 10 mL = 0,010 mmol
                Jumlah mmol HCl untuk titrasi = N x VHCl Titrasi
                                                                   = 0,001 mmol/mL x 2,6 mL
                                                                   = 0,0026 mmol
                Reaksi 1
                                       MgCO3   +   2HCl                        MgCl2   + H2CO3
                mmol awal   :    x mmol     0,001 mmol
                bereaksi     :    x mmol     2x   mmol
                sisa              :        -            (0,001 – 2x) mmol

                Reaksi 2 
                                              HCl           +        NaOH              NaCl +   H2O mmol awal :      (0,001 – 2x) mmol    0,010 mmol
                bereaksi     :    (0,001 – 2x) mmol      (0,001 – 2x) mmol
                sisa              :           -                          (0,009 + 2x) mmol

                Reaksi 3 (titrasi)
                                            HCl             +    NaOH               NaCl   +   H2O
                mmol awal  : (0,009 + 2x) mmol       (0,009 + 2x) mmol  
                bereaksi       : (0,009 + 2x) mmol    (0,009 + 2x) mmol
                sisa              :           -                                   -


                (Jumlah mmol NaOH)     =   (Jumlah mmol HCl)
                      (0,009 + 2x) mmol   =  0,001 mmol/mL x  1,55 mL
                                          2x         =   [(0,0026 – 0,009)] mmol
                                                               
               
        Maka :
        [MgCO3] = (3,2 x 10-3 / 10) mmol/mL = – 3,2 x 10-4 mmol/mL
                                                                              
            Ksp MgCO3  = [Mg2+] [CO32-]
                                 =   s . s   =   s2
                                = (– 3,2 x 10-4)2
                                            = 1,02 x 10-9 M

                b. Kelarutan CaCO3
                Diketahui :
                   V CaCO3 = 10 mL
                   VHCl = 1 mL ; [HCl] = 0,001 M
                   VNaOH = 10 mL ; [NaOH] = 0,001 M
                   VHCl Titrasi = 1 mL
                Ditanyakan : Kelarutan CaCO3 (mol/L)
                Jawab :
                  Misalkan jumlah mmol CaCO3 = x mmol
                  Jumlah mmol HCl = 0,001 M x 1 mL = 0,001 mmol
                  Jumlah mmol NaOH = 0,001 M x 10 mL = 0,01 mmol
                  Jumlah mmol HCl untuk titrasi = N x VHCl Titrasi
                                                                     = 0,001 mmol/mL x 1 mL
                                                                     = 0,001 mmol
               


                Reaksi 1
                                       CaCO3   +   2HCl                         CaCl2   + H2CO3
                mmol awal   :    x mmol     0,001 mmol
                bereaksi     :    x mmol     2x   mmol
                sisa              :        -            (0,001 – 2x) mmol

                Reaksi 2  
                                              HCl           +        NaOH              NaCl +   H2O mmol awal :      (0,001 – 2x) mmol    0,010 mmol
                bereaksi     :    (0,001 – 2x) mmol      (0,001 – 2x) mmol
                sisa              :           -                          (0,009 + 2x) mmol

                Reaksi 3 (titrasi)
                                            HCl             +    NaOH               NaCl   +   H2O
                mmol awal  : (0,009 + 2x) mmol       (0,009 + 2x) mmol  
                bereaksi       : (0,009 + 2x) mmol    (0,009 + 2x) mmol
                sisa              :           -                                   -

(Jumlah mmol NaOH)   =   (Jumlah mmol HCl)
     (0,009 + 2x) mmol    =   0,001 x 1 mmol
                               2x    =   (0,001 – 0,009) mmol
                                    
Maka : [CaCO3] = (4 x 10-3 / 10)mmol/mL    = – 4 x 10-4 mmol/mL
                                                                         
           Ksp CaCO3  = [Ca2+] [CO32-]
                               =  s .  s    =  s2
                               = (­– 4 x 10-4)2
                               = 1,6 x 10-9 M



             c. Kelarutan BaCO3
                Diketahui :
                   V BaCO3 = 10 mL
                   VHCl = 1 mL ; [HCl] = 0,001 M
                   VNaOH = 10 mL ; [NaOH] = 0,001 M
                   VHCl Titrasi = 1,45 mL
                Ditanyakan : Kelarutan BaCO3 (mol/L)
                Jawab :
                  Misalkan jumlah mmol BaCO3 = x mmol
                  Jumlah mmol HCl = 0,001 M x 1 mL = 0,001 mmol
                  Jumlah mmol NaOH = 0,001 M x 10 mL = 0,01 mmol
                  Jumlah mmol HCl untuk titrasi = N x VHCl Titrasi
                                                                     = 0,001 mmol/mL x 1,45 mL
                                                                     = 0,00145 mmol
                Reaksi 1
                                       BaCO3   +   2HCl                         BaCl2   + H2CO3
                mmol awal   :    x mmol     0,001 mmol
                bereaksi     :    x mmol     2x   mmol
                sisa              :        -            (0,001 – 2x) mmol

                Reaksi 2 
                                              HCl           +        NaOH              NaCl +   H2O mmol awal :      (0,001 – 2x) mmol    0,010 mmol
                bereaksi     :    (0,001 – 2x) mmol      (0,001 – 2x) mmol
                sisa              :           -                          (0,009 + 2x) mmol

                Reaksi 3 (titrasi)
                                            HCl             +    NaOH               NaCl   +   H2O
                mmol awal  : (0,009 + 2x) mmol       (0,009 + 2x) mmol  
                bereaksi       : (0,009 + 2x) mmol    (0,009 + 2x) mmol
                sisa              :           -                                   -

(Jumlah mmol NaOH)   =   (Jumlah mmol HCl)
     (0,009 + 2x) mmol    =   0,001 x 1,45 mmol
                               2x    =   (0,00145 – 0,009) mmol
                                    
Maka : [BaCO3] = (3,7 x 10-3 / 10)mmol/mL    = – 3,7 x 10-4 mmol/mL
                                                                          
           Ksp BaCO3 = [Ca2+] [CO32-]
                               =  s .  s    =  s2
                               = (– 3,7 x 10-4)2
                               = 1,36 x 10-9 M


      B.             Pembahasan
Kelarutan merupakan banyaknya zat terlarut yang larut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk dapat menghasilkan larutan jenuh. Faktor-faktor yang penting dalam mempengaruhi kelarutan zat padat adalah temperatur, sifat dasar zat, dan hadirnya ion-ion dalam larutan. Kebanyakan zat, kelarutannya akan meningkat jika temperaturnya dinaikkan. Oleh karena itu, kebanyakan reaksi yang memerlukan kelarutan yang cepat seringkali menggunakan larutan panas.
Jenis zat pelarut juga mempengaruhi besarnya kelarutan. Kebanyakan reaksi menggunakan air sebagai pelarut, karena air merupakan pelarut yang mempunyai momem dipol yang besar dan ditarik baik ke kation atau anion untuk membentuk ion terhidrasi.
Hadirnya ion-ion lain dalam larutan dapat mempengaruhi larutan. Suatu endapan lebih dapat larut dalam suatu larutan yang mengandung salah satu ion endapannya dan pengaruh ion sekutu yang berlebih, maka dapat menyebabkan kelarutan suatu endapan cukup besar daripada nilai yang diramalkan oleh tetapan hasil kali kelarutan.
Apabila kesetimbangan dimulai dengan ion dalam larutan yang menghasilkan zat murni tak larut, maka prosesnya dinamakan reaksi pengendapan.
Pada percobaan ini digunakan larutan MgCO3, CaCOdan BaCO3 jenuh yang berarti larutan ini tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut, dan warna dari kedua larutan ini adalah bening. Larutan MgCO3, CaCOdan BaCO3 termasuk garam karbonat dari alkali tanah jika dilihat dari pengelompokan senyawa, MgCO3, CaCOdan BaCO3 juga termasuk senyawa ionik yang sukar larut, artinya kelarutannya sangat kecil. Karena senyawa ini memiliki kelarutan yang kecil maka memiliki suatu nilai yang disebut konstanta hasil kali kelarutan.
Pada percobaan menggunakan larutan MgCO3, CaCOdan BaCOjenuh kali ini, terjadi tiga reaksi, yaitu :
1.      Reaksi yang pertama terjadi antara 10 ml MgCO3, CaCOdan BaCOjenuh  larutan dengan 1 ml larutan HCl 0,001 M.
CaCO+ 2 HCl                     CaCl2 + H2O + CO2
MgCO+ 2HCl                         MgCl+ H2O + CO2
2.      Tetapi pada reaksi ini masih terdapat HCl sisa. Untuk menghilangkan HCl sisa tersebut, maka larutan direaksikan 10 ml NaOH 0,001M.  Sehingga terjadi reaksi yang kedua, yaitu :
HCl(aq) +     NaOH(aq)                  NaCl(aq)  +  H2O(l)
3.      Dari reaksi tersebut dihasilkan NaCL dan H2O.   Ternyata pada reaksi tersebut terjadi kelebihan NaOH, sehingga larutan bersifat basa.  Untuk mengetahui volume NaOH maka larutan dititrasi dengan larutan HCl.  Sebelum dititrasi larutan tersebut diberi indikator fenolmerah karena memiliki pH yang terletak pada titik ekuivalen titrasi.. Ini merupakan reaksi yang ketiga, yaitu :
NaOH(aq)  +    HCl(aq)                    NaCl(aq)  +  H2O(l)
Titrasi akan berhenti jika larutan berubah warna menjadi warna kuning. Titrasi ini dilakukan sebanyak 2 kali dan diperoleh volume rata- rata HCl-nya sebesar 2,6 mL untuk MgCO3, 1 mL untuk CaCO3 dan 1,45 mL untuk BaCO3.
Dari percobaan di atas, dapat diketahui secara umum mengenai pengendapan, yaitu :
                    i.  Pengandapan terjadi jika hasil kali ion > Ksp
                   ii.  Pengendapan tak terjadi jika hasil kali ion < Ksp
                 iii.  Larutan tepat jenuh jika hasil kali ion = Ksp
Pernyataan di atas merupakan hubungan reaksi pengendapan dengan nilai Ksp.

Dari nilai rata-rata volume yang telah diperoleh, dapat dihitung nilai hasil kali kelarutannya (Ksp) dari larutan tersebut. Untuk mendapatkan nilai Ksp, dapat melewati beberapa proses perhitungan. Proses-proses perhitungan tersebut sangat menentukan untuk mendapatkan nilai Kspnya. Nilai kelarutan dari masing-masing larutan dari hasil perhitungan yaitu -3,2 x 10-4 untuk MgCO3, -4 x 10-3  untuk CaCO3, dan -3,7 x 10-4 untuk BaCO3. Sedangkan nilai Ksp yang didapatkan dari hasil percobaan yaitu 1,02 x 10-9 untuk MgCO3, 1,6 x 10-9 untuk CaCo3 dan 1,36 x 10-9 untuk BaCO3.
VI.    KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil percobaan ini adalah :
1.    Hasil kali kelarutan adalah nilai dari perkalian ion-ion dalam larutan dimana pada suhu tertentu terjadi keseimbangan antara ion-ion tersebut dengan padatan
2.    Kelarutan MgCO3 pada percobaan ini adalah – 3,2 x 10-4 mol/L
3.    Hasil kali kelarutan (Ksp) MgCO3 pada percobaan ini adalah 1,02 × 10-9.
4.    Kelarutan CaCO3 pada percobaan ini adalah – 4 x 10-4 mol/L
5.    Hasil kali kelarutan (Ksp) CaCO3 pada percobaan ini adalah 1,6 x 10-9.
6.    Kelarutan BaCO3 pada percobaan ini adalah – 3,7 x 10-4 mol/L
7.    Hasil kali kelarutan (Ksp) BaCO3 pada percobaan ini adalah 1,36 x 10-9.
 DAFTAR PUSTAKA
Brady, James E. Kimia Universitas Asas Dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Petrucci. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar Anda disini